Ajaran Kesederhanaan dan Berbagi kepada Sesama untuk Menggapai Kesuksesan dari Raja Midas Indonesia

17:20


Chairul Tanjung Si Anak Singkong 
Thahja Gunawan Diredja
Penerbit Buku Kompas, Juni 2012
xvi + 384 hlm ; 15 cm x 23 cm
ISBN : 978 - 979 - 709 - 650 - 2
Cetakan ketiga, Juli 2012

Ajaran Kesederhanaan dan Berbagi kepada Sesama untuk Menggapai Kesuksesan dari Raja Midas Indonesia

Tidak banyak buku autobiografi yang terbit dalam bentuk seperti buku harian seseorang yang memuat perjalanan hidup dari merintis usaha dari bawah sampai sukses di umur yang bisa dibilang parobaya. Bahasa yang digunakan pun sangat mengalir dan tanpa meloncat-loncat khas seperti sebuah buku harian. Bagi yang ingin menjadi wirausahawan sukses buku ini patut anda baca dan sangat direkomendasikan. Saat pertama kali buku ini terbit saya sempat mengacuhkannya, karena saya juga belum tahu siapa sebenarnya Chairul Tanjung. Bahkan sebutan Si Anak Singkong pun juga saya belum mengerti. Apalagi sosok Chairul Tanjung sangat jarang terdengar di telinga kebanyakan orang dalam kiprah di pemerintahan persis seperti dalam isi buku tersebut yang menyebut bahwa Chairul Tanjung juga belum menjadi apa-apa tiba-tiba menjadi sosok yang terkenal dan kehadirannya berubah menjadi diperhitungkan ( gagasan visi Indonesia 2030 ). Bisa dibilang saya sangat terlambat memahami sosok ajaib ini, bila dibandingkan dengan sosok yang lain katakanlah sosok yang lagi naik daun saat ini siapa lagi kalau bukan Dahlan Iskan. Saya mengenal Dahlan Iskan lebih karena tulisan-tulisannya yang serius tapi penuh humor dan sudah begitu banyak buku yang terbit berkat tulisannya yang berbobot, tapi Chairul Tanjung tulisannya tidak pernah saya temukan di media mana pun apalagi di media sosial.
Banyak yang menyebut kalau Chairul Tanjung adalah seorang sosok yang mampu mengubah keadaan suatu ekonomi perusahaan dari minus menjadi sebuah perusahaan yang bersih, sehat dan menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat dalam waktu yang relatif tidak lama, seperti dalam kasus mengambil alihan Bank Karman menjadi Bank Mega di tahun 1995. Dan saat terjadi krisis monter 1997/1998 malah Bank Mega dinobatkan sebagai bank sehat dan tidak terpengaruh krisis bahkan, sempat membukukan laba yang fantastis di saat yang lain sedang mengalami kebangkrutan secara finansial. Maka tidak heran bila Chairul Tanjung seperti diumpamakan seperti Raja Midas dalam mythology rakyat Yunani kuno. Di bawah bendera CT Corp miliknya ( sebelumnya bernama Para Group ), puncak dari semua usaha yang dilakukan adalah mengakuisisi perusahaan ritel terbesar di dunia, Carrefour. Dengan menguasai 60 persen saham Carrefour Indonesia ( hal: 317), maka Chairul Tanjung pun berusaha untuk memajukan dan meningkatkan dunia UKM Indonesia yang sempat tertatih-tatih akibat serbuan produk impor.
Mungkin pembaca sempat heran saat membaca bahwa latar belakang pendidikan Chairul Tanjung adalah dokter gigi dan bukan pendidikan ekonomi. Ternyata sejak kecil Si Anak Singkong ini sudah dibekali oleh neneknya berupa jiwa entrepeneur dan sikap disiplin yang ketat. Tidak hanya dari keluarga saja Chairul Tanjung mendapatkan pendidikan yang keras, tetapi ini juga saat dimana keputusan ayah Chairul Tanjung yang memasukkannya ke sekolah Katolik elit dari SD sampai SMP yang bernama Van Lith. Keputusaan ayah Chairul Tanjung sama persis dengan apa yang dilakukan oleh mantan Wakil Presiden Moh. Hatta yang memasukkan anak-anaknya di sekolah Katolik pada waktu itu. Sungguh keputusan yang aneh bila dilakukan di zaman sekarang. Orang Islam kok masuk sekolah Katolik. Saat menjadi siswa ini bakat tawar-menawar atau yang lebih dikenal bertransaksi dalam istilah ekonomi sudah terlihat ( hal : 107 ). Tidak hanya jago tawar-menawar, Chairul Tanjung muda pun juga jago melakukan kegiatan teater yang berguna bila ingin mendapat kendaraan gratis ke sekolah pulang pergi. Pernah suatu saat Anak Singkong ini hampir diringkus Laksus kalau di jaman sekarang mungkin Polisi Satpol Pamong Praja karena melakukan ngamen di jalan-jalan protokol Jakarta. Sungguh kenakalan khas remaja waktu itu yang sulit terbayang juga pernah dialami oleh pengusaha sukses sekelas Chairul Tanjung seolah-olah sulit dipercaya oleh akal sehat.
Jiwa solidaritas, sosial, kepemimpinan dan idealisme diturunkan dari sang ayah, AG Tanjung yang merupakan ketua ranting Partai Nasionalis Indonesia cabang Sawah Besar ( hal : 65 ). Pernah saat menjadi ketua mahasiswa FKG-UI, Chairul Tanjung muda menolak peran militer masuk Universitas Indonesia dan hasilnya sia-sia karena akhirnya militer berhasil mendudukkan jenderalnya sebagai rektor UI. Tidak hanya melakukan demo saja, Chairul Tanjung juga aktif melakukan berbagai kegiatan aktif baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Malam menggalang dana untuk penderita thalesemia juga sukses dilakukan dengan dihadiri oleh empat menteri yang merupakan sebuah prestasi luar biasa pada waktu itu karena dilakukan saat Chairul Tanjung masih berstatus mahasiswa. Sikap sosial ini masih dipertahankan juga sampai sekarang oleh Chairul Tanjung dengan mendirikan Rumah Anak Madani di Medan bagi anak-anak korban Tsunami Aceh 2004 di bawah naungan CT Foundation.
 Dalam menjalankan usaha bisnisnya Chairul Tanjung pun pernah mengalami kerugian saat pertama kali merintis bisnis sama seperti kebanyakan para entrepreuneur pemula. Tidak hanya merugi Chairul Tanjung pun juga pernah dikhianati oleh teman sendiri, walaupun Chairul Tanjung sudah sukses mempunyai bisnis yang sudah menggurita. Dan yang paling menarik dari isi buku ini adalah ternyata sosok Chairul Tanjung tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk kemajuan roda bisnisnya, walaupun beliau menjabat sebagai ketua Komite Ekonomi Nasional ( KEN ).

Yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bagaimana seharusnya menjadi pemimpin dengan leadership yang kuat bisa membangun sebuah perusahaan yang bersih dan mempunyai keuntungan yang besar. Karena mendapatkan keuntungan itu bukan tujuan, melainkan sarana agar perusahaan bisa menjalankan cita-citanya. Tidak hanya masalah bisnis, tetapi sikap pluralisme juga ditunjukkan dengan bagus oleh Chairul Tanjung disamping tanpa meninggalkan sikap nasionalisme yang kuat. Sungguh sebuah buku yang bermutu, walaupun juga berisi nostalgia Chairul Tanjung saat masih muda dulu. Kerja keras, Ikhlas dan Jujur, itulah yang dicoba ditularkan oleh Chairul Tanjung kepada pembaca.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments